Google merevolusi cara belajar


 Image

Andai internet sudah ada sejak berabad-abad lampau, pasti tidak pernah ada sekolah. Andai Google sudah ada sejak jaman pithecanthropus erectus, manusia modern tak bakal pernah mengenal universitas atau perguruan tinggi. Sebabnya, Google sudah menyediakan hampir semua ilmu pengetahuan bagi umat manusia.

Bagi sebagian orang, internet digunakan sekadar untuk menjalin koneksi dengan orang lain, dan Google berfungsi sebatas laman pencarian. Tapi, bagi sebagian yang lain, internet dan Google dimanfaatkan untuk berbagi ilmu pengetahuan serta menggali ilmu pengetahuan baru.

Rangkaian kata tersebut melintas begitu saja di otak, sesaat setelah berhasil meng-install GIMP, aplikasi olah gambar/foto semacam Photoshop, dan kemudian sukses mengoperasikannya dengan menjajal memanipulasi sebuah foto hingga lebih menarik dari semula. Hasilnya memang tak sebagus sentuhan desainer grafis profesional, tapi itu sudah cukup membanggakan.

Sesungguhnya yang membanggakan bukan hasilnya tetapi prosesnya: proses belajar dari nol pengetahuan tentang desain grafis hingga bisa. Tak ada guru atau instruktur khusus yang mengajari. Semua dipandu Google: mulai dari cara mendapatkan/mengunduh file aplikasinya (termasuk menentukan/menyesuaikan jenis aplikasi dengan jenis sistem operasi yang digunakan: OSX/iOS, Windows, Linux, Unix, Android, dan sebagainya), meng-install, hingga cara mengoperasikan aplikasi gratis tersebut.

Caranya hanya dengan mengetikkan kata kunci “how to get/downlod GIMP…”, “how to install GIMP…”, “how to use GIMP…”, “how to create/make…on/in GIMP…”, dan seterusnya, pada kolom pencarian Google. Lalu, hanya dalam hitungan detik, bermunculanlah ratusan bahkan ribuan tutorial yang siap di-klik dan dipelajari. Beberapa laman/blog bahkan ada yang mengklasifikasikan tutorialnya berdasarkan tingkat kemampuan: beginner (pemula), intermediate (menengah), dan professional/expert (ahli).

Kendala bahasa tak lagi jadi soal karena Google sudah menyediakan Google Translate. Jika menemui tutorial bagus tapi berbahasa asing, cukup meng-copy dan paste teksnya pada halaman Google Translate, dan sesuaikan dengan terjemahan bahasa yang diinginkan. Hasil terjemahannya memang cenderung sekadar menerjemahkan kata per kata sehingga seringkali tidak sesuai konteks. Tetapi, hal itu sudah lumayan membantu.

Jika malas membaca instruksi-instruksi pada tutorial yang berbentuk teks, di Google juga tersedia tutorial dalam bentuk video (kebanyakan dari Youtube) yang menampilkan cara-cara pengoperasian, tahap demi tahap, dari awal hingga akhir. Tutorial yang begini lebih gampang diikuti karena tanpa teks dan suara pun masih bisa menyimak videonya.

Cara semacam itu tentu tidak hanya dapat diterapkan pada pengetahuan teknis semacam desain grafis, tetapi juga pada bidang lain. Misal, cara memasak, merawat tanaman atau hewan peliharaaan, membuat ramuan tradisional untuk mengobati penyakit tertentu, memodifikasi atau mengutak-atik mesin sepeda motor/mobil, trik atau tips bermain alat musik, teknik menendang bola, dan lain-lain.

Mensin pencarian paling populer sejagat itu juga menyediakan tutorial memperbaiki komputer/notebook/ponsel yang rusak, mengutak-atik tampilan web/blog melalui HTML, membuat pemancar radio/televisi/internet nirkabel, membuat film independen, merekam musik, mendesain rumah idaman, dan masih (sangat) banyak lagi.

Tak hanya itu. Belakangan, muncul tren “kuliah online” (istilah karangan penulis) dari para dosen, profesor ternama atau pakar di bidang tertentu dari seluruh dunia. Gratis dan boleh bolos suka-suka. Cukup mengetikkan kata-kata tertentu pada kolom pencarian Google. Misal, “Steve Jobs Stanford Commencement Speech”, atau “Bill Gates Speech at Harvard”, atau “Philosophy Lecture: Justice”, atau “Kuliah Umum Menteri BUMN RI – Dahlan Iskan”, atau “Kuliah Umum: Asal-usul Kecerdasan Manusia oleh Dr Daoed Joesoef”, dan sejenisnya. Google akan segera menampilkan video-video kuliah umum yang diunggah di Youtube.

Sejumlah akademisi dari beragam disiplin ilmu pengetahuan, terutama di Amerika Serikat dan Eropa, sengaja merekam kuliah regulernya di ruang-ruang kelas di kampusnya, dan mengunggahnya di Youtube. Seluruh dunia dapat menyimak kuliah tersebut tanpa harus berada di kelas sang dosen.

Terobosan baru dilakukan Universitas Harvard, Amerika Serikat. Ia, bekerja sama dengan MIT, membuka kelas gratis di internet yang bisa dinikmati pelajar di seluruh penjuru dunia. Kursus yang ditawarkan melalui edx itu memberikan kuliah melalui video, kuis online, dan pemeriksaan real-time. Siswa akan menerima sertifikat keahlian berdasarkan hasil belajar mereka.

Di Indonesia, kuliah semacam itu (mengunggah video kuliah di Youtube atau kuliah online ala Harvard) belum (terlalu) populer. Sebab, selain membutuhkan jaringan internet yang memadai, juga memerlukan perangkat-perangkat lain serta keterampilan tertentu, seperti teknik pengambilan gambar atau penyuntingan video, dan sebagainya. Tapi, itu hanya soal waktu: cepat atau lambat.

Bukan mustahil dan hanya soal cepat atau lambat pula, kelak anak-anak sekolah dasar untuk belajar membaca dan menulis, belajar menghitung, belajar menyanyi, belajar menggambar dan lain-lain, tidak perlu lagi ke sekolah melainkan cukup mengakses Google. Cara belajar mereka tentu akan jauh lebih variatif karena gurunya adalah umat manusia di jagat ini. Mereka dapat berinteraksi: berbagi pengetahuan maupun bertanya, kepada siapa pun. Mereka juga tak akan lagi menggambar gunung dengan satu warna hijau saja, karena pasti akan lebih banyak referensi untuk menggambar gunung.

Nah, jika sudah begitu, sekolah akan kembali pada fungsi semula, yakni kegiatan di waktu luang bagi anak-anak di tengah-tengah kegiatan utama mereka: bermain dan menghabiskan waktu untuk menikmati masa kanak-kanak dan remaja. Sebab, kata sekolah yang berasal dari bahasa Latin: skhole, scola, scolae atau skhola, memiliki arti waktu luang atau waktu senggang. Dengan demikian, bersekolah akan menjadi aktivitas yang menyenangkan, sama seperti bermain.

Bukan hanya itu. Proses belajar, dalam konsep pendidikan yang membebaskan, seperti dikatakan Paulo Freire, bukan seperti sistem bank –sebagaimana terjadi sekarang– yang menganggap peserta didik sebagai tabungan yang akan selalu menerima ilmu dari guru. Dalam proses ini, guru dianggap paling mengerti sedangkan siswa tidak tahu apa-apa. Ruang-ruang kelas membelenggu jiwa bebas dan pikiran mereka.

Freire menyatakan konsep pendidikan problem posing education (pendidikan hadap masalah), yakni guru berperan sebagai teman murid yang memotivasi untuk berpikir kritis. Hal yang demikian penting dalam sudut pandang pendidikan yang membebaskan, agar manusia menjadi tuan dalam pemikirannya sendiri, dengan berdiskusi tentang pikiran dan pandangannya tentang dunia dengan orang-orang di sekitarnya. Belajar ala Google sangat memungkinkan terjadinya hal itu, karena ia melibatkan interaksi seluruh manusia dari beragam bangsa dan negara.

Bagi orang dewasa pun, belajar akan lebih mengasyikkan sekaligus menantang. Tidak perlu ke kampus atau masuk ruang-ruang kelas untuk kuliah, aktivitas yang bagi para pekerja cukup menyita waktu. Sembari menjalankan pekerjaan, iseng-iseng berselancar di Google mencari tutorial mendesain interior rumah atau tutorial memperbaiki kompor gas yang rusak. Atau, bereksperimen membuat reaktor nuklir sederhana sebagai alternatif kebutuhan listrik di rumah. Bukan mustahil.

Sumber : Kopikental.com

visit our website www.Genreystore.com dan follow @Genreystore untuk update info Gadget, Laptop, Tablet, Ultrabook dan Aksessoris lainya dengan berbagai model dan harga yang terjangkau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s